International Conference on Cross-Cultural Religious Literacy (IC-CCRL) 2024: Membangun Dialog Antarbudaya dan Antaragama

Pada tanggal 10-11 Juli 2024, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bekerja sama dengan Leimena Institute mengadakan Konferensi Internasional tentang Literasi Agama Lintas Budaya (IC-CCRL) di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat. Acara ini bertujuan untuk memperkuat dialog antarbudaya dan antaragama serta mempromosikan pemahaman yang lebih baik tentang pluralisme di tengah masyarakat global yang semakin terhubung.

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno L.P. Marsudi, membuka secara resmi Konferensi Internasional Literasi Keagamaan Lintas Budaya atau International Conference on Cross-Cultural Religious Literacy (IC-CCRL).  Konferensi internasional LKLB  diadakan selama dua hari yang diikuti lebih dari 160 peserta luring dan 4.000 peserta daring dari dalam dan luar negeri.

Menteri Luar Negeri dalam pidato kuncinya menyampaikan pentingnya dialog konstruktif untuk mengatasi berbagai konflik di seluruh dunia. Konflik-konflik ini tidak secara inheren religius, tetapi unsur-unsur agama sering terkait sebagai faktor yang ikut meningkatkan ketegangan. Oleh karena itu, memahami keberagaman, khususnya keberagaman agama menjadi sangat penting, sebagai sebuah upaya yang bertujuan menyamakan persepsi dan pemahaman yang harus selalu dipelihara. Kebebasan setiap agama harus dijamin secara hukum, keragaman harus dihormati dan jangan sampai perbedaan agama menciptakan fanatisme dan menimbulkan ketegangan.

"Dalam hal ini, terdapat 3 (tiga) agenda di mana Indonesia senantiasa bekerja secara aktif bersama komunitas internasional, yaitu memperkuat toleransi, mempromosikan inklusifitas, dan mendorong kolaborasi lintas agama," ungkap Menlu RI.

Latar Belakang diadakannya kegiatan ini, seperti yang kita ketahui, bahwa dalam era globalisasi, interaksi antara berbagai budaya dan agama menjadi semakin intens. Hal ini menuntut adanya pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai, tradisi, dan kepercayaan yang berbeda untuk menciptakan harmoni dan menghindari konflik. IC-CCRL hadir sebagai platform untuk memfasilitasi dialog ini, dengan menghadirkan para ahli, akademisi, dan praktisi dari berbagai latar belakang.

Tujuan Konferensi ini selain bertujuan untuk terus mendukung upaya-upaya yang mempromosikan pemahaman dan kerjasama lintas budaya dan lintas agama di masa depan, juga mempunyai tujuan antara lain :

1.   Meningkatkan pemahaman tentang pentingnya literasi agama lintas budaya dalam konteks global.

2. Memfasilitasi dialog antarbudaya dan antaragama untuk mendorong toleransi dan penghargaan   terhadap perbedaan.

3.  Membangun jaringan antara akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan untuk bekerja sama dalam  mempromosikan perdamaian dan stabilitas global.

Total negara yang hadir pada acara IC-CCRL sebanyak 37 negara, meliputi para pembicara, moderator, peserta, dan tamu undangan termasuk kedubes asing di Jakarta yang hadir pada sesi pembukaan. Gelaran kegiatan juga dihadiri peserta yang mengikuti secara daring baik dari dalam dan luar negeri. Tamu undangan dari kedubes asing pada tingkat kepala perwakilan terlihat Duta Besar Austria, Yordania, Romania, Spanyol, Vatikan dan Persatuan Emirat Arab. Sedangkan Kedubes lain seperti  Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Malaysia, Laos, dan Filipina mengirimkan diplomatnya. Selain peserta konferensi di atas, peserta konferensi juga meliputi  para pemimpin masyarakat sipil, dan para alumni pelatihan LKLB (Literasi Keagamaan Lintas Budaya), yang terdiri dari guru madrasah dan sekolah.

Tema yang diangkat adalah “Multi-faith Collaborations in an Inclusive Society", yang berfokus kepada pemahaman adanya kebutuhan yang semakin besar kolaborasi multiagama di mana orang-orang dari berbagai agama dan kepercayaan dapat saling belajar dan bekerja sama, dengan tetap mengakui dan menghormati perbedaan agama dan kepercayaan mereka, dalam mengatasi masalah-masalah yang menjadi perhatian bersama.

Konferensi Internasional LKLB diharapkan dapat memperkokoh modalitas Indonesia akan nilai-nilai toleransi, moderasi beragama, dan penghargaan terhadap kemajemukan. Konferensi ini mengangkat berbagai topik untuk penguatan kolaborasi multiagama, termasuk dari sisi pendidikan, penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan mempromosikan nilai-nilai LKLB dalam komunitas ASEAN.

​Konferensi menghadirkan sekitar 50 narasumber dari berbagai negara untuk mengisi 5 sesi panel dengan format hybrid via zoom dan 10 sesi pilihan (breakout sessions) khusus untuk peserta luring. Konferensi Internasional LKLB juga menyoroti peran penting pendidikan dalam pembangunan kolaborasi multiagama. Konferensi ini melanjutkan keberhasilan pelatihan Literasi Keagamaan Lintas Budaya di Indonesia yang telah melatih lebih dari 8.500 guru dalam waktu sekitar 2,5 tahun, dan melibatkan sedikitnya 30 lembaga pendidikan dan keagamaan.

sumber :

https://kemlu.go.id/portal/id/read/6037/berita/menteri-luar-negeri-ri-membuka-konferensi-internasional-literasi-keagamaan-lintas-budaya

https://news.detik.com/berita/d-7431663/menlu-retno-buka-konferensi-internasional-literasi-keagamaan-lintas-budaya

Komentar